Kamis, 24 Februari 2011

Apakah Hitam dan Putih adalah Warna?

Televisi hitam-putih tidak disebut tv berwarna, bukan? Masuk akal. Namun, ternyata pertanyaan di atas adalah salah satu isu yang paling diperdebatkan.

Kalau yang ditanya seorang ilmuwan, Anda akan mendapatkan jawaban fisika: "Hitam bukan warna, putih adalah warna." Bertanya kepada seniman, Anda akan mendapat jawaban lain: "Hitam adalah warna, sedangkan putih bukan". Waduh, mana yang betul?


Mari kita lihat dari beberapa perspektif. Pertama, kita mesti kembali pada pemahaman dasar tentang bagaimana warna tercipta. Ada dua contoh tentang bagaimana warna menjadi ada: benda nyata dan benda tidak nyata (dalam tv).

Warna benda nyata adalah hasil dari pigmen atau agen pewarna molekul. Sebagai contoh, warna muka perempuan di bawah ini adalah hasil warna molekul di permukaan kulitnya.

Juga, warna dari lukisan perempuan di bawah ini adalah hasil dari pigmen merah yang digunakan untuk membuat gambar.


Sementara itu, warna objek yang terlihat pada pesawat televisi atau monitor komputer adalah warna dari cahaya. Kalau belum tahu bedanya, coba lihat layar monitor atau televisi Anda dari dekat, sangat dekat. Bisa juga menggunakan kaca pembesar. Inilah yang kira-kira Anda lihat.


Warna yang ada di komputer atau televisi diciptakan oleh foton cahaya yang dikirim dalam sistem elektronik. Pernah tahu istilah monitor RGB? Kepanjangan dari RGB adalah Red-Green-Blue, itulah tiga warna primer aditif pembentuk yang ada di dalamnya.

Perlu juga dipahami soal warna primer pigmen, yaitu tiga warna yang tidak dapat dibuat dengan mencampurkan warna lain. Ketiga warna itu adalah merah, biru, dan kuning.


 

Setelah Anda paham soal dua kategori warna yang berbeda (pigmen dan cahaya) serta definisi warna primer, jawaban soal apakah hitam dan putih warna kini dapat dijawab.



Apakah warna hitam dan putih adalah warna ketika dihasilkan oleh cahaya?

Jawaban teori warna aditif:

1. Hitam adalah ketiadaan warna dan karena itu bukan warna. Ketika tak ada cahaya, semuanya hitam. Contohnya monitor komputer atau tv yang mati.

2. Putih adalah campuran dari semua warna dan karena itu dia warna. Cahaya secara umum tampak tidak berwarna atau putih. Sinar matahari adalah cahaya putih yang terdiri dari semua spektrum warna, yang baru tampak bila melewati prisma. Pelangi adalah buktinya.



Apakah hitam dan putih adalah warna ketika mereka adalah pigmen atau zat pewarna molekul?

Jawaban teori pigmen:

Hitam adalah warna. Coba tanyakan ahli kimia dan dia akan mengkonfirmasi.

Berikut ini cara sederhana untuk menunjukkan bagaimana hitam dibuat: Campurkan tiga warna primer (merah, kuning, dan biru) menggunakan cat air atau pewarna makanan.

Anda tak akan mendapatkan hitam pekat, tetapi intinya jelas, gelap. Sejarah pemakaian pigmen pewarna hitam dibuat dari arang, logam besi, dan bahan kimia lain sebagai sumber warna hitam.


Jadi, apakah hitam dan putih adalah warna?

Nanti dulu, ada satu lagi penjelasan final berikut ini. Warna ada dalam konteks yang lebih besar dari penglihatan manusia. Pertimbangkan fakta bahwa ada tiga bagian untuk proses persepsi warna.

1. Media - warna yang ada sebagai suatu pigmen / pewarna (seperti warna benda nyata) atau sebagai cahaya (seperti warna gambar pada layar televisi).

2. Pengirim - Bagaimana warnanya ditransmisikan.

3. Penerima - Bagaimana manusia melihat warna. Dengan kata lain, bagaimana kita menerima informasi tentang warna. Apakah warna ada jika tak ada yang bisa melihatnya? Warna ada karena bisa terlihat.


Jadi, apakah hitam adalah warna? Apakah putih adalah warna?

Jawaban finalnya adalah dengan menggabungkan dua teori yang telah diuraikan di atas. Pigmen dan cahaya baru setengah dari jawaban.

Warna benda yang nyata berasal dari molekul pewarna pada permukaannya. Kita melihat warna objek karena dia memantulkan sebuah "warna" untuk mata.


Apakah hitam itu warna?

Jawaban final: Tidak.
Hitam bukan warna. Benda hitam menyerap semua warna dari spektrum yang terlihat dan tak memantulkan satupun spektrum warna ke mata.


Apakah putih itu warna?


Jawaban final: Ya.
Putih adalah warna. Putih memantulkan semua warna dari spektrum cahaya yang dapat terlihat oleh mata.


Sumber :
kaskus.us

Rabu, 23 Februari 2011

Mungkinkah Kita Bisa Menghasilkan Keturunan di Luar Angkasa?

Jika suatu saat nanti manusia harus meninggalkan bumi karena sudah tidak layak untuk dihuni, kita tetap perlu menghasilkan keturunan. Bahkan saat kita sedang dalam perjalanan menuju tempat tinggal yang baru itu.

Akan tetapi, sejauh mana peluang untuk mendapatkan keturunan saat manusia telah meninggalkan planet bumi ini?

http://www.xcor.com/press-releases/2008/images/lynx_suborbital_ascent.jpg
Lynx, konsep pesawat yang mengangkut manusia ke luar angkasa.

Dari penelitian yang dilakukan sejumlah ahli, tampaknya hal tersebut sulit terjadi. Pasalnya, ruang angkasa sendiri sebenarnya merupakan sebuah sistem kontrasepsi yang sangat besar.

Hasil penelitian khusus, seputar seks di ruang angkasa menyimpulkan bahwa radiasi kosmik akan membombardir tubuh manusia dengan kuantitas yang besar selama perjalanan di luar angkasa. Selain itu, tinggal di Mars, misalnya, dalam waktu yang lama akan menurunkan jumlah sel sperma.

Janin yang sudah terbentuk tidak akan berkembang secara sempurna di lingkungan ruang angkasa. Meski saat ini ruang di pesawat angkut telah dilengkapi dengan pelindung radiasi yang lebih baik, tetap saja itu tidak cukup untuk melindungi zigot untuk berkembang.

Jika bayi berhasil keluar dari kandungan, peluang bayi itu mengalami cacat yang diakibatkan oleh radiasi sangat besar.

Dan masalah tidak hanya sampai di situ. Dari penelitian terhadap hewan yang dikirim ke luar angkasa, imbas radiasi bisa membunuh sel telur pada janin.

Bayi akan terlahir dalam kondisi mandul. Artinya, itu akan mempersulit umat manusia berkembang di planet baru itu nantinya.

Menurut Richard Jennings, pakar medis ruang angkasa asal University of Texas, astronot memang terbukti tetap mampu membuahi pasangannya setelah ia kembali ke Bumi.

Akan tetapi, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap astronot yang menunaikan misi di luar angkasa dalam periode waktu lebih lama.

Dari sisi teknis, masih ada tantangan bagi manusia yang ingin menunaikan tugasnya di luar angkasa. Kostum ruang angkasa saat ini cukup berat dan tidak menyediakan banyak kemudahan untuk 'berhubungan intim'. Dan sayangnya, manusia tetap perlu menggunakan pakaian khusus.

Alasannya, dalam kondisi tanpa gravitasi, keringat atau cairan lain yang keluar dari tubuh berpotensi dapat merusak perangkat elektronik pesawat. Apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa manusia lebih berkeringat saat di luar angkasa.


Namun demikian, tetap saja ada hambatan lain yang telah disiapkan ruang angkasa. Mekanisme tubuh manusia tidak memungkinkan itu terjadi.

Jika manusia ingin mendiami planet lain, antariksawan harus melakukan perubahan besar-besaran pada pesawat ruang angkasa agar penjelajah di masa depan bisa bertahan lebih lama di luar angkasa dan mampu menunaikan tugas alaminya.

Sumber :
teknologi.vivanews.com